SEBAGAI MAHASISWA PENYULUH PERTANIAN YANG NANTINYA AKAN TERJUN DI MASYARAKAT DALAM MEMBERIKAN PENGARAHAN KEPADA PETANI, HARUSLAH MEMILIKI PENGETAHUAN DAN PENGALAMAN YANG CUKUP BAGAIMANA CARA MENYULUH YANG BAIK DI LAPANGAN, SEHINGGA PENYULUH ITU BENAR-BENAR MENJADI MOTIVATOR YANG BAIK DI MASYARAKAT

Minggu, 06 Oktober 2013

Budidaya Jagung Hibrida

I.PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal.maka dari itu kami akan membantu dalam teknis budidaya tanaman nya supaya hasilnya lebih optimal


II.SYARAT TUMBUH
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

III.TEKNIS BUDIDAYA
A.Pengolahan tanah
Alternatif I
-Pada lahan bekas sawah dibuat alur tanaman menggunakan bajak dengan jarak 80 cm
-pembuatan saluran air disesuaiakan dengan panjang lahan.

Alternatif II
-olah tanah I dilakukan 5 hari sebelum tanam,dengan cara bajak sistem kering,
-pengolahan tanah II dilakukan 2 hari sebelum tanam dengan cara dibajak berlawanan dari arah pengolahan I serta digaru/diratakan.
-dibuat alur tanaman dengan jarak 80 cm,
-pembuatan saluran air disesuaiakan dengan panjang lahan.


B.Persiapan Tanam
-Dosis untuk pupuk tanaman jagung hibrida 270 kg Phonska,270 kg urea,dan 500 kg -petroganik/hektar,atau disesuaikan dengan PH tanah yang mau ditanam jagung.
-untuk kebutuhan benih perhektar antara 20-25 kg.


C.PENANAMAN
Jarak tanam untuk tanaman jagung adalah 80cm X 40cm(2 tanaman) atau 80cm X 20cm (1Tanaman)populasi tanaman 62.500 per hektar.


D.PUPUK DASAR
Pupuk dasar berupa 500kg Petroganik,135kg Phonska,dan 65kg Ureaper ha diberikan saat tanam dengan cara ditugal disamping benih dalam baris tanaman dengan jarak 10cm,lubang yang sudah di beri pupuk kemudian di tutup kembalui dengan tanah.

E.PUPUK SUSULAN
-Pupuk susulan I diberikan pada umur 15 HST dengan dosis 135kg Phonska + 70kg Urea,
-Pupuk susulan ke II diberikan saat umur 30 HST dengan dosis 135kg Urea per ha.pupuk diberikan dengan cara ditugal disamping tanaman dalam baris tanaman dengan jarak 10cm,lubang yang sudah di beri pupuk kemudian di tutup kembali dengan tanah.

Jenis,takaran,dan waktu pemupukan

Jenis Pupuk
Takaran
(kg/ha)
Takaran dan waktu pemupukan
Dasar
0 HST
Susulan I
15 HST
Susulan II
30 HST
Petroganik
500
500
-
-
Phonska
270
135
135
-
Urea
270
65
70
135
Jumlah
1,040
700
205
135

F.PEMELIHARAAN
-Pengairan dilakukan seminggu sekali tergantung kondisi.
-Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan susulan I dan II
-Pembubunan dilakukan bersamaan pemupukan I dan II


G.PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan secepat mungkin begitu diketahui ada serangan.

H.PANEN DAN PASCA PANEN
Panen dilalakukan pada saat umur 100-110 HST,di tandai dengan klobot yang sudah kering,biji jagung mengkilap dan keras dan bila ditekan kuku tidak meninggalkan bekas.panen dengan cara mengupas kelobot jagung dilahan dan mengambil tongkolnya,tongkol segera di jemur sampai kering kemudian di pipil dan di sortasi guna memisahkan biji yang baik dan yang rusak.
Produksi 6-8 ton per ha pipilan kering atau tergantung Varietas.
Copyright © 2013 BPIJ Gorontalo. All rights reserved.

Teknik Budidaya Jagung Komposit
PDF
Print
Email

Written by   
DATE_FORMAT_LC2
TEKNIK BUDIDAYA JAGUNG KOMPOSIT

Di negara berkembang seperti Indonesia penggunaan jagung benih unggul masih didominasi oleh varietas bersari bebas atau jagung komposit. Beberapa alas- an penting kenapa jagung komposit ditanam di beberapa lingkungan tumbuh, :  mudah dan sederhana dikembangkan, benih dapat secara cepat diperbanyak oleh petani atau kelompok tani sehingga memungkinkan menyebar, mengurangi ketergantungan petani kepada pihak lain karena dapat menyimpan benih sendiri, biaya produksi lebih murah.
Selain itu, ada beberapa alasan kenapa sebagian besar petani masih menggunakan jagung komposit varietas unggul, antara lain : daya adaptasi yang luas, dapat dikembangkan pada lahan marginal maupun lahan subur, harga benih relatif murah, benih dapat digunakan beberapa generasi tanpa mengalami degenerasi(kemunduran hasil), umur genjah dan daya hasil cukup tinggi.
TEKNIK BUDIDAYA
1.       Penyiapan lahan
  • Pengolahan tanah dilakukan sekali hingga 2 kali (tergantung kondisi tanah), untuk tanah bekas sawah tidak perlu dilakukan pengolahan tanah.
  • Jika curah hujan masih cukup tinggi perlu dibuat saluran drainase setiap 3 m, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan.
2.       Penggunaan benih unggul
  • Varietas unggul jagung komposit antara lain : Bisma, Lamuru, Palakka, Kresna, Sukmaraga, Srikandi putih, Srikandi kuning.
  • Benih bermutu merupakan syarat terpenting dalam budidaya tanaman jagung . Benih sehat dan memiliki daya tumbuh minimal 90 %.
  • Kebutuhan benih antara 20-25 kg/ha, tergantung jarak tanam.
3.       Penanaman
  • Populasi tanaman jagung yang optimal antara 62.500-100.000 tanaman/ha. Jarak tanam yang optimal antara 80 cm x 40 cm; 75 cm x 50 cm; dan 80 cm x 25 cm, masing-masing dengan 2 (dua) tanaman per lubang.
  • Campurkan benih jagung sebelum tanam dengan Redomil/Saromil dosis 100 gr/kg benih.
4.       Pemupukan
  • Pupuk kandang dengan dosis antara 5 – 15 ton/ha.
  • Saat tanam pupuk Urea 50-75 kg/ha + SP36 75-100 kg/ha+ KCl 50-75 kg/ha.
  • Umur 30-40 hari setelah tanam diberikan pupuk Urea 100-150 kg/ha.
  • Pemupukan diberikan secara ditugal pada setiap tanaman jarak 3-5 cm dari tanaman kemudian ditutup dengan tanah.
5.       Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi kegiatan : penyiangan, pembumbunan dan pengaturan drainase.
  • Penyiangan fase pertumbuhan awal sangat baik dilakukan agar tidak terjadi persaingan dalam pemanfaatan unsur hara dengan tanaman pengganggu (gulma).
  • Penyiangan dilakukan satu atau dua kali selama periode tumbuh tanaman tergantung pertumbuhan gulma. Penyiangan pertama  umur 10-15 hari setelah tanam.
  • Pembumbunan tanaman jagung dilakukan pada saat tanaman umur 4 – 5 minggu.
  • Kegiatan pembumbunan tanaman dapat memperbaikan drainase pada lahan pertanaman.
6.       Pengendalian hama
Serangan hama merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan produksi jagung. Hama yang menyerang di pertanaman antara lain :
  • Lalat bibit (Atherigona sp.) dan ulat tanah (Agrotis sp.), merusak tanaman muda, terutama pada musim hujan dapat mengakibatkan tanaman mati. Pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman, tanam serempak. Pengendalian dengan insektisida yang mengandung khlorpirifos dan karbofuran.
  • Penggerek batang (Ostrinia Furnacalis), merusak daun, batang, bunga jantan dan juga tongkol saat tanaman umur  1 bulan. Pengendalian dengan menggunakan Furadan 3 G diberikan melalui pucuk sebelum berbunga (40 hari) dan diikuti Decis 25 EC.
  • Penggerek tongkol (Helicoverpa sp.), menyerang bagian reproduksi tanaman termasuk kuncup bunga dan buah, biasanya pada ujung tongkol dan merusak sebagian biji jagung dalam tongkol. Pengendalian dilakukan setelah terbentuk jambul jagung dengan Decis 25 EC setiap 1-2 hari sekali sehingga biayanya mahal.
  • Pemanfaatan musuh alami dengan cara menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan perkembangan musuh alami.
  • Pengendalian fisik dan mekanik antara lain dilakukan dengan mengambil kelompok telur dan membunuh larva hama atau imagonya atau mengambil tanaman yang sakit.
7.     Pengendalian penyakit
Suatu penyakit merupakan hasil interaksi 3(tiga) komponen utama yaitu: pathogen, inang dan lingkungan (PIL). Usaha-usaha pengendalian untuk mengatasi masalah penyakit pada dasarnya adalah cara-cara memanfaatkan PIL tersebut untuk memperkecil akibat yang ditimbulkannya sehingga mencapai suatu titik di bawah ambang ekonomi dengan kerugian yang dapat diabaikan.
  • Bulai (Downy mildew), penyakit yang paling berbahaya dapat menurunkan hasil sampai 100 %. Penyebaran penyakit melalui angin yang membawa konidia dari sumber inokulum ke tanaman di sekitarnya. Pengendalian tidak menggunakan benih dari tanaman sakit, tanam serempak, penggunaan varietas tahan dan eradikasi.  Seedtreatment pada benih sebelum ditanam dengan Ridomil/Saromil dengan dosis 100 gr/kg benih dapat menekan serangan bulai.
  • Hawar daun (Helminthosporium turcicum), timbul bercak-bercak pada daun bawah tua kemudian menuju daun-daun muda, pada infeksi berat tanaman mati. Kerugian dapat mencapai 70 %. Pengendalian gunakan fungisida sistemik, terutama sejak bunga jantan muncul dengan interval 7-10 hari.
  • Virus Mosaik, saat ini ada 3 (tiga) macam, yaitu : Virus Mosaik Tebu, Virus Mosaik Ketimun, dan Virus Mosaik Kerdil Jagung (VMKJ). Tanaman jagung rentan VMKJ sampai umur 5 minggu dan semakin tua akan lebih tahan. Dapat menular melalui biji dan tepung sari. Belum ada varietas jagung yang tahan terhadap VMKJ. Pengendalian dilakukan dengan penyiangan, sanitasi, dengan insektisida efektif seperti Monokrofos, Tamaron atau Thiodan.
7.       Panen dan pasca panen
  • Panen dilakukan saat setelah benih mencapai masak fisiologis, karena pada saat itu kadar air benih jagung masih cukup tinggi, yaitu sekitar 35-40 % maka segera dilakukan penjemuran.
  • Penundaan waktu panen adalah sampai benih mencapai masak panen asalkan keadaan lapang cukup menguntungkan (tidak ada hujan). Penundaan dimaksud untuk menurunkan kadar air benih sampai 25-30 %, sehingga biaya pengeringan dan kerusakan mekanis yang terjadi saat panen dapat ditekan.
  • Tongkol jagung dipanen manual, segera kulit dikupas dan dijemur sampai kadar air 10-14 %, kemudian dipipil, pemipilan pada saat kadar air masih tinggi akan merusak kualitas biji jagung.
  • Jagung pipilan kemudian dijemur lagi hingga kadar air < 9 %  apabila akan disimpan.

VARIETAS UNGGUL
  • KRESNA, Umur 90 hari; tinggi tanaman 185 cm; warna biji kuning; bentuk biji mutiara; bobot 1.000 biji 270 gr; potensi hasil 7,0 t/ha; cukup tahan terhadap  bulai.
  • BISMA, Umur 96 hari; tinggi tanaman 230 cm; warna biji kuning; bentuk biji semi mutiara; bobot 1.000 biji 307 gr; potensi hasil 7,5 t/ha; tahan karat dan bercak daun.
  • LAMURU, Umur 95 hari; tinggi tanaman 190 cm; warna biji kuning; bentuk biji mutiara; bobot 1.000 biji 275 gr; potensi hasil 7-8 t/ha; cukup tahan bulai dan karat.
  • PALAKKA, Umur 95-100 hari; tinggi tanaman 160-200 cm; warna biji kuning; bentuk biji mutiara; bobot 1.000 biji 275 gr; potensi hasil 8,0 t/ha; tahan penyakit bulai.
  • SUKMARAGA, Umur 105-110 hari; tinggi tanaman 180-220 cm; warna biji kuning tua; bentuk biji semi mutiara; bobot 1.000 biji 240-280 gr; potensi hasil 8,5 t/ha; tahan penyakit bulai dan karat daun. [agricenter.jogjaprov.go.id]
Informasi dan Pemasaran benih :


Informasi benih :


 
Pencarian
Top of Form
Bottom of Form
Copyright © 2006-2013. PT. Sang Hyang Seri (Persero).
Secured by Siteground Web Hosting


I. PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Syarat benih
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).

B. Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

C. Pemupukan




Waktu

Dosis Pupuk Makro (per ha)




Dosis POC
NASA

Urea (kg)

TSP (kg)

KCl (kg)

Perendaman benih
-
-
-

2 - 4 cc/ lt air

Pupuk dasar
120
80
25

20 - 40 tutup/tangki
( siram merata )

2 minggu
-
-
-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram)

Susulan I (3 minggu)
115
-
55


-

4 minggu
-
-
-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )

Susulan II (6minggu)
115
-
-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )

Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis ± 1 botol/1000 m2 dengan cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan.

D. Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen <>E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

4. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

F. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA
b. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO

b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO

c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO.

d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .

e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

G. Panen dan Pasca Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

4. Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.

5. Pemipilan

Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

6. Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.

===================================

Cara Pemesanan Produk :

  1. SMS/Telp 081227634646 untuk konfirmasi Pemesanan.
  2. Kemudian akan dihitung jumlah biaya yang harus ditransfer.
  3. Transfer biaya pembelian + bea kirim (bila diperlukan) sesuai dengan Pemesanan melalui BCA 4450965338 a/n Abror Yudi Prabowo atau MANDIRI 1370006554766 a/n Abror Yudi Prabowo .
  4. Konfirmasi Nama dan Alamat pengiriman Via Hp 081227634646

Sistem dan Struktur Sosial dan Ekonomi Indonesia, Agama dan Kepercayaan”


Sistem dan Struktur Sosial dan Ekonomi  IndonesiaSistem dan Struktur Sosial IndonesiaSistem menurut Chester A. Bernard, adalah suatu kesatuan yang terpadu secara holistik, yang di dalamnya terdiri atas bagian-bagian dan masing-masing bagian memiliki ciri dan batas tersendiri. Suatu sistem pada dasarnya adalah“organisasi besar” yang menjalin berbagai subjek (atau objek) serta perangkatkelembagaan dalam suatu tatanan tertentu. Subjek atau objek pembentuk sebuah sistem dapat berupa orang-orang atau masyarakat, untuk suatu sistem sosial atau sistem kemasyarakatan dapat berupa makhluk-makhluk hidup dan benda alam,untuk suatu sistem kehidupan atau kumpulan fakta, dan untuk sistem informasiatau bahkan kombinasi dari subjek-subjek tersebut.Suatu sistem sosial pada dasarnya adalah suatu sistem daripada tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi diantara berbagai individu, yang tumbuh dan berkembang tidak secara kebetulan, melainkan tumbuh dan berkembang di atas standar penilaian umum yang disepakati bersama oleh para anggota masyarakat.Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia ada dua yaitu secara horizontal dan vertikal.      Secara horizontal ditandai dengan oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosialberdasarkan perbedaan suku bangsa, perbedaan-perbedaan agama, adat serta daerah. Secara vertikal ditandai dengan perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.  Sistem dan Struktur Ekonomi IndonesiaSemakin meluasnya pertumbuhan sektor ekonomi modern dan administrasi nasional di  Indonesia, maka kontras pelapisan sosial antara sejumlah besar orang-orang yang secara ekonomis dan politis berposisi lemah pada lapisan bawah, dan sejumlah kecil orang-orang yang relatif kaya dan berkuasa pada lapisan atas menjdi semakin mengeras. Didalam struktur ekonomi yang demikian, dua macam sector ekonomi yang sangat berbeda sekali wataknya berhadapan satu sama lain. Sektor yang pertama berupa struktur ekonomi modern yang secara komersial lebih bersifat canggih. Banyak bersentuhan dengan lalu lintas perdagangan internasional, dibimbing oleh motif-motif memperoleh  keuntungan yang maksimal. Kemudian sektor yang kedua berupa struktur ekonomi pedesaan yang bersifat tradisional, yang berorientasi kepada konservatif, dibimbing oleh motif-motif untuk memelihara keamanan dan kelanggengan sistem yang sudah ada, tidak berminat pada usaha-usaha untuk memperoleh keuntungan dan penggunaan sumber-sumber secara makismal, lebih berorientasi pada motfi-motif untuk memenuhi kepuasan dan kepentingan-kepentingan sosial daripada menanggapi rangsangan-rangsangan dari kekuatan-kekuatan internasional, serta kurang mampu mengusahakan pertumbuhan perdagangan secara dinamis.Perbedaan antara kedua sektor tersebut secara integral berakar di dalam keseluruhan struktur masyarakat Indonesia yang mengandung perbedaan yang tajam antara struktur masyarakat kota yang bersifat modern, dengan masyarakat pedesaan yang bersifat tradisional. Jika  sektor ekonomi modern  terutama kita jumpai di dalam masyarakat kota, maka sektor ekonomi tradisional terutama kita jumpai di dalam masyarakat desa. Struktur kemasyarakatan yang demikian, seperti halnya dapat kita jumpai dikebanyakan negara-negara yang sedang berkembang. Mengikuti lukisan Edward Shil, masyarakat yang demikian ditandai oleh adanya jurang yang memisahkan antara sejumlah kecil orang-orang yang kaya-raya dengan sejumlah besar warga masyarakat yang melarat, antara sejumlah kecil orang-orang yang berpendidikan tinggi dengan sejumlah besar anggota masyarakat yang kurang berpendidikan. Pendek kata, katanya, jurang perbedaan tersebut terjadi antara kelompok orang-orang yang bergairah, penuh aspirasi, relatif kaya, berpendidikan, dengan orang-orang desa yang kurang bergairah, melarat, kurang berpendidikan, serta tidak berdaya. Barangkali lukisan Shil tersebut memang terlalu provokatif, akan tetapi kebenarannya barang kali tidak mudah kita ingkari pula.B.     Agama dan KepercayaanDalam masyarakat yang sudah mapan, agama merupakan salah satu struktur institusional yang penting yang melengkapi seluruh sistem sosial. Hindu dan Buddha telah dibawa ke Indonesia sekitar abad kedua dan abad keempat Masehi ketika pedagang dari India datang ke Sumatera, Jawa dan Sulawesi, membawa agama mereka. Hindu mulai berkembang di pulau Jawa pada abad kelima Masehi dengan kasta Brahmana yang memuja Siva. Pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha pada abad berikut lebih lanjut dan sejumlah ajaran Buddha dan Hindu telah memengaruhi kerajaan-kerajaan kaya, seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit dan Sailendra. Sebuah candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur, telah dibangun oleh Kerajaan Sailendra pada waktu yang sama, begitu pula dengan candi Hindu, Prambanan juga dibangun. Puncak kejayaan Hindu-Jawa, Kerajaan Majapahit, terjadi pada abad ke-14 M, yang juga menjadi zaman keemasan dalam sejarah Indonesia.Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-7 melalui pedagang Arab. Islam menyebar sampai pantai barat Sumatera dan kemudian berkembang ke timur pulau Jawa. Pada periode ini terdapat beberapa kerajaan Islam, yaitu kerajaan Demak, Pajang, Mataram dan Banten. Pada akhir abad ke-15 M, 20 kerajaan Islam telah dibentuk, mencerminkan dominasi Islam di Indonesia. Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, khususnya di pulau Flores dan Timor.Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionarispun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah orang-orang Batak, dimana banyak saat ini yang menjadi pemeluk Protestan.Perubahan penting terhadap agama-agama juga terjadi sepanjang era Orde Baru. Antara tahun 1964 dan 1965, ketegangan antara PKI dan pemerintah Indonesia, bersama dengan beberapa organisasi, mengakibatkan terjadinya konflik dan pembunuhan terburuk pada abad ke-20. Atas dasar peristiwa itu, pemerintahan Orde Baru mencoba untuk menindak para pendukung PKI, dengan menerapkan suatu kebijakan yang mengharuskan semua untuk memilih suatu agama, karena kebanyakan pendukung PKI adalah ateis. Sebagai hasilnya, tiap-tiap warganegara Indonesia diharuskan untuk membawa kartu identitas pribadi yang menandakan agama mereka. Kebijakan ini mengakibatkan suatu perpindahan agama secara massal, dengan sebagian besar berpindah agama ke Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Karena Konghucu bukanlah salah satu dari status pengenal agama, banyak orang Tionghoa juga berpindah ke Kristen atau Buddha.Enam agama utama di IndonesiaBerdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, "Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius)".Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dengan 85% dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam. Mayoritas Muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia seperti di Jawa dan Sumatera. Sedangkan di wilayah timur Indonesia, persentase penganutnya tidak sebesar di kawasan barat. Sekitar 98% Muslim di Indonesia adalah penganut aliran Sunni. Sisanya, sekitar dua juta pengikut adalah Syiah (di atas satu persen), berada di Aceh.Sejarah Islam di Indonesia sangatlah kompleks dan mencerminkan keanekaragaman dan kesempurnaan tersebut kedalam kultur. Pada abad ke-12, sebagian besar pedagang orang Islam dari India tiba di pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Hindu yang dominan beserta kerajaan Buddha, seperti Majapahit dan Sriwijaya, mengalami kemunduran, dimana banyak pengikutnya berpindah agama ke Islam. Dalam jumlah yang lebih kecil, banyak penganut Hindu yang berpindah ke Bali, sebagian Jawa dan Sumatera. Dalam beberapa kasus, ajaran Islam di Indonesia dipraktikkan dalam bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan Islam daerah Timur Tengah. Ada pula sekelompok pemeluk Ahmadiyah yang kehadirannya belakangan ini sering dipertanyakan. Aliran ini telah hadir di Indonesia sejak 1925. Pada 9 Juni 2008, pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah surat keputusan yang praktis melarang Ahmadiyah melakukan aktivitasnya ke luar. Dalam surat keputusan itu dinyatakan bahwa Ahmadiyah dilarang menyebarkan ajarannya.Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat pada abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eropa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda. Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warganegara. Sebagai hasilnya, gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota. Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau Sulawesi, 17% penduduknya adalah Protestan, terutama di Tana Toraja, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Sekitar 75% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. dibeberapa wilayah, keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini, tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris.Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia. Sebagai contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma, tidak pernah menerapkan sistem kasta. Contoh lain adalah, bahwa Epos keagamaan Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Aliran Hindu juga telah terbentuk dengan cara yang berbeda di daerah pulau Jawa, yang jadilah lebih dipengaruhi oleh versi Islam mereka sendiri, yang dikenal sebagai Islam Abangan atau Islam Kejawen.Semua praktisi agama Hindu Dharma berbagi kepercayaan dengan banyak orang umum, kebanyakan adalah Lima Filosofi: Panca Srada. Ini meliputi kepercayaan satu Yang Maha Kuasa Tuhan, kepercayaan di dalam jiwa dan semangat, serta karma atau kepercayaan akan hukuman tindakan timbal balik. Dibanding kepercayaan atas siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi, Hindu di Indonesia lebih terkait dengan banyak sekali yang berasal dari nenek moyang roh. Sebagai tambahan, agama Hindu disini lebih memusatkan pada seni dan upacara agama dibanding kitab, hukum dan kepercayaan.Menurut sensus nasional tahun 2000, kurang lebih dari 2% dari total penduduk Indonesia beragama Buddha, sekitar 4 juta orang. Kebanyakan penganut agama Buddha berada di Jakarta, walaupun ada juga di lain provinsi seperti Riau, Sumatra Utara dan Kalimantan Barat. Namun, jumlah ini mungkin terlalu tinggi, mengingat agama Konghucu dan Taoisme tidak dianggap sebagai agama resmi di Indonesia, sehingga dalam sensus diri mereka dianggap sebagai penganut agama Buddha.                          Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya". yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)Agama Katolik mulai berkembang di Jawa Tengah ketika Frans van Lith menetap di Muntilan pada 1896 dan menyebarkan iman Katolik kepada rakyat setempat. Mulanya usahanya tidak membawa hasil yang memuaskan, hingga tahun 1904 ketika empat kepala desa dari daerah Kalibawang memintanya menjelaskan mengenai Katolik. Pada 15 Desember 1904, sebanyak 178 orang Jawa dibaptis di Semagung, Muntilan, Magelang.Pada tahun 2006, 3% dari penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut Protestan. Mereka kebanyakan tinggal di Papua dan Flores. Selain di Flores, kantung Katolik yang cukup signifikan adalah di Jawa Tengah, yakni kawasan sekitar Muntilan, Magelang, Klaten, serta Yogyakarta. Selain masyarakat Jawa, iman Katolik juga menyebar di kalangan warga Tionghoa-Indonesia.Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitikberatkan pada kepercayaan dan praktik yang individual, lepas daripada kode etik melakukannya, bukannya suatu agama masyarakat yang terorganisir dengan baik, atau jalan hidup atau pergerakan sosial. Di era 1900-an, pemeluk Konghucu membentuk suatu organisasi, disebut Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia (sekarang Jakarta).Setelah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, umat Konghucu di Indonesia terikut oleh beberapa huru-hara politis dan telah digunakan untuk beberapa kepentingan politis. Pada 1965, Soekarno mengeluarkan sebuah keputusan presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, di mana agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuklah Konghucu. Pada awal tahun 1961, Asosiasi Khung Chiao Hui Indonesia (PKCHI), suatu organisasi Konghucu, mengumumkan bahwa aliran Konghucu merupakan suatu agama dan Confucius adalah nabi mereka.Tahun 1967, Soekarno digantikan oleh Soeharto, menandai era Orde Baru. Di bawah pemerintahan Soeharto, perundang-undangan anti Tiongkok telah diberlakukan demi keuntungan dukungan politik dari orang-orang, terutama setelah kejatuhan PKI, yang diklaim telah didukung oleh Tiongkok. Soeharto mengeluarkan instruksi presiden No. 14/1967, mengenai kultur Tionghoa, peribadatan, perayaan Tionghoa, serta menghimbau orang Tionghoa untuk mengubah nama asli mereka. Bagaimanapun, Soeharto mengetahui bagaimana cara mengendalikan Tionghoa Indonesia, masyarakat yang hanya 3% dari populasi penduduk Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dominan di sektor perekonomian Indonesia. Pada tahun yang sama, Soeharto menyatakan bahwa “Konghucu berhak mendapatkan suatu tempat pantas di dalam negeri” di depan konferensi PKCHI.Pada tahun 1969, UU No. 5/1969 dikeluarkan, menggantikan keputusan presiden tahun 1967 mengenai enam agama resmi. Namun, hal ini berbeda dalam praktiknya. Pada 1978, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bahwa hanya ada lima agama resmi, tidak termasuk Konghucu. Pada tanggal 27 Januari 1979, dalam suatu pertemuan kabinet, dengan kuat memutuskan bahwa Konghucu bukanlah suatu agama. Keputusan Menteri Dalam Negeri telah dikeluarkan pada tahun 1990 yang menegaskan bahwa hanya ada lima agama resmi di Indonesia.Karenanya, status Konghucu di Indonesia pada era Orde Baru tidak pernah jelas. De jure, berlawanan hukum, di lain pihak hukum yang lebih tinggi mengizinkan Konghucu, tetapi hukum yang lebih rendah tidak mengakuinya. De facto, Konghucu tidak diakui oleh pemerintah dan pengikutnya wajib menjadi agama lain (biasanya Kristen atau Buddha) untuk menjaga kewarganegaraan mereka. Praktik ini telah diterapkan di banyak sektor, termasuk dalam kartu tanda penduduk, pendaftaran perkawinan, dan bahkan dalam pendidikan kewarga negaraan di Indonesia yang hanya mengenalkan lima agama resmi.Setelah reformasi Indonesia tahun 1998, ketika kejatuhan Soeharto, Abdurrahman Wahid dipilih menjadi presiden yang keempat. Wahid mencabut instruksi presiden No. 14/1967 dan keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1978. Agama Konghucu kini secara resmi dianggap sebagai agama di Indonesia. Kultur Tionghoa dan semua yang terkait dengan aktivitas Tionghoa kini diizinkan untuk dipraktekkan. Warga Tionghoa Indonesia dan pemeluk Konghucu kini dibebaskan untuk melaksanakan ajaran dan tradisi mereka. Beberapa agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia antara lain:YahudiTerdapat komunitas kecil Yahudi yang tidak diakui di Jakarta dan Surabaya. Pendirian Yahudi awal di kepulauan ini berasal dari Yahudi Belanda yang datang untuk berdagang rempah. Pada tahun 1850-an, sekitar 20 keluarga Yahudi dari Belanda dan Jerman tinggal di Jakarta (waktu itu disebut Batavia). Beberapa tinggal di Semarang dan Surabaya. Beberapa Yahudi Baghdadi juga tinggal di pulau ini. Pada tahun 1945, terdapat sekitar 2.000 Yahudi Belanda di Indonesia. Pada tahun 1957, dilaporkan masih ada sekitar 450 orang Yahudi, terutama Ashkenazim di Jakarta dan Sephardim di Surabaya. Komunitas ini berkurang menjadi 50 pada tahun 1963. Pada tahun 1997, hanya terdapat 20 orang Yahudi, beberapa berada di Jakarta dan sedikit keluarga Baghdadi di Surabaya.Yahudi di Surabaya memiliki sinagoga. Mereka hanya sedikit hubungan dengan Yahudi di luar Indonesia. Tidak ada pelayanan yang diberikan pada sinagoga. Sinagoga ini telah ditutup oleh umat Muslim yang menentang Perang Gaza 2008-2009. Satu-satunya sinagoga yang masih tersisa terletak di luar kota Manado, yang dihadiri oleh sekitar 10 orang.Baha'iDi Indonesia hadir sejumlah pemeluk agama Baha'i. Berapa jumlah mereka sebenarnya tidak diketahui dengan pasti karena seringkali mereka mengalami tekanan dan penolakan dari masyarakat sekitarnya. Salah satu penganut agama Baha'i yang diketahui secara terbatas adalah belasan penganut di sebuah wilayah di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.Kristen OrtodoksMeskipun Kristen Ortodoks sudah hadir di Indonesia melalui kaum Non-Kalsedon di Sumatera pada abad ke-7, baru pada abad ke-20 Gereja ini hadir dengan resmi. Ada dua kelompok Ortodoks di Indonesia, yaitu Gereja Ortodoks Yunani, dan Gereja Ortodoks Siria yang berkiblat ke Antiokhia.KejawenKata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut "Agami Jawi". Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa.Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah").Simbol-simbol "laku" biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan.Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman. Daftar Pustaka:Nasikun. 2009. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Rajawali Pers.http://google.co.id/Sistem Struktur Sosial Indonesia.diakses tanggal 22 Februari 2012.http://google.co.id/Sistem Ekonomi Indonesia.diakses tanggal 22 Februari 2012.http://google.co.id/Agama dan Kepercayaan Indonesia.diakses tanggal 22 Februari 2012.http://google.co.id/agama di Indonesia.diakses tanggal 22 Februari 2012.http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gif

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
IMADIKLUS MODEL MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULU

1.     1.     Model Rogers
Kurikulum yang dikembangkan hendaknya dapat mengembangkan individu secara fleksibel terhadap perubahan-perubahan dengan cara melatih diri berkomunikasi secara interpersonal.
Langkah-langkah sebagai berikut :
1.     Diadakannya kelompok untuk dapatnya hubungan interpersonal ditempat yang tidak sibuk.
2.     Kurang lebih dalam satu minggu peserta mengadakan saling tukar pengalaman, dibawah pimpinan staf mengajar.
3.     Kemudian diadakan pertemuan dengan masyarakat yang lebih luas lagi dalam satu sekolah, sehingga hubungan interpersonal akan menjadi lebih sempurna. Yaitu hubungan hubungan antara guru dengan guru, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik dalam suasanan yang akrab.
4.     Selanjutnya pertemuan diadakan dengan mengikutsertakan anggota yang lebih luas lagi, yaitu dengan mengikutsertakan para pegawai administrasi dan orang tua peserta didik. Dalam situasi yang demikian diharapkan masing-masing person akan akan saling menghayati dana lebih akrab, sehingga memudahkan berbagai pemecahan problem sekolah yang dihadapi.
Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan penyusunan kurikulum akan lebih realistis, karena didasari oleh kenyataan yang diharapkan.
1.     2.     Model Ralp Tyler
Tyler mengungkapkan bahwa untuk mengembangkan suatu kurikulum, perlu menempatkan empat pertanyaan berikut :
1.     What educational purpose should the school seek to attain? (objectives
2.     What educational experiences are likely to aatain these objectives? (instructional strategic and content)
3.     How can these educational experiences be organized effectively? (organizing learning experiences)
4.     How can we determine whether these purposes are being attain? (identifikasi dan evaluasi)
Sebagai bapak pengembangan kurikulum. Tyler telah menanamkan perlunya hal yang lebih rasional, sistematis, dan pendekatan yang berarti dalam tugas mereka. Tetapi, karya tyler atau pendapat tyler sering dipandang rendah oleh penulis sesudahnya. Hal itu karena dalam hal menentukan objectives model, ia terkesan sangat kaku. Namun pandangan yang demikian sebenarnya tidak selalu benar, mengingat banyak karya atau tulisan tyler yang telah salah diintepretasi, dianalisis secara dangkal dan bahkan cenderung menghindarinya. Brady, sebagai contoh dengan kaitannya pertanyaan diatas, menganjurkan bahwa: the four steps are sometimes simplified to read “objectives , “content , “method and “evaluation . Namun dengan tegas tyler mengatakan bahwa merujuk pada pengaaman belajardalm pertanyaan 2 sebagai: the interaction betweenthe learner and the external conditions in the environmental to which be can react (Print: 1993: 64).
                      Sama halnya dengan itu, beberapa penulis lain berpendapat bahwa tyler tidak menjelaskan sumber tujuan (source of objectives) secara memadai. Tetapi, sebenarnya tyler telah membahas hal itu dalam satu buku utuh. Dia telah menguraikan dan menganalisis sumber-sumber tujuanyang dating dari anak didik, mempelajari kehidupan kotemporer, matapelajaran yang bersifat akademik, filsafat, dan psikologi belajar.
                      Tentu saja Tyler memiliki pengaruh yang kuat dan luas terhadap para pengembang kurikulum atau penulis kurikulum lainnya selama tiga decade yang lalu. Secara jelas tentang model pengembangan kurikulum , dapt dilihat pada gambar berikut:
1.     3.     Model Hilda Taba
Pendekatan kurikulum yang dilakukan oleh Taba yaitu dengan memodifikasi model dasar Tyler agar lebih representatif terhadap perkembangan kurikulum diberbagai sekolah. Dalam pendekatannya, Taba menganjurkan untuk menggunakan pertimbangan ganda terhadap isi (organisasi kurikulum yang logis) dan individu pelajar (psikologi organisasi kurikulum). Langkah-langkah dalam proses pengembangan kurikulum menurut Taba adalah:
Step 1 : Diagnosa kebutuhan
Step 2 : formulasi pokok-pokok
Step 3 : Seleksi isi
Step 4 : Organisasi isi
Step 5 : Seleksi pengalaman belajar
Step 6 : Organisasi pengalaman belajar
Step 7 : penentuan tentang apa yang harus dievaluasi dan cara melakukannya
Taba mengklaim bahwa bahw keputusan keputusan-keputusan pada elemen mendasar harus dibuat valid. Kriteria mungkin berasal dari berbagai sumber yakni, dari tradisi, tekanan tekanan sosial dan kebiasaan-kebiasaan yang ada.
Agar kurikulum menjadi berguna pada pengalaman belajar murid, bahwa sangatlah penting mediagnosis berbagai kebutuhan anak. Hal ini merupakan langkah penting pertama dari Taba. Tentang apa yang anak didik inginkan dan perlukan untuk belajar. Langkah kedua yakni, formulasi yang jelas dan tujuan tuuan yang komprehensif untuk membentuk dasar pengembangan elemen-elemen berikutnya. Taba berpendapat bahwa hakikat tujuan akan menentukan jenis pelajaran yang perlu untuk diikuti.
Langkah 3 dan 4 diintegrasikan dalam realitas meskipun untuk tujuan mempelajari kurikulum. Taba membedakan diantara keduanya, untuk menggunakan langkah-langkah ini pendidik perlu menformulasikan dulu tujuan-tujuan, sebagaimana halnya mengetahui secara mendalam terhadap isi kurikulum. Begitu juga dengan 5 dan 6 yang berhubungan dengan tujuan dan isi. Untuk menggunakan langkah ini secara efektif taba menganjurkan para pengembang kurikulum untuk memperoleh suatu pengertian terhadap prinsip-prinsip belajar tertentu, strategi konsep yang dipakai, dan urutan belajar. Pada langkah terakhir (7) Taba menganjurkan para   pengembang kurikulum untuk mengonsepkan dan merencanakan berbagai strategi evaluasi. Model kurikulum Tyler dan Taba dikategorikan kedalam Rational Model atau Objectives Model.
Kelebihan dari model Taba dan model Tyler ini yakni, Rational Model yang logis strukturnya menjadikan sebagai dasar yang berguna dalam perencanaan dan pemikiran kurikulum. Model ini telah menghindari kebingungan, sebuah tugas yang susah dari perspektif kebanyakan pengembang kurikulum. Para pendidik dan para pengembang kurikulum yang bekerja dibawah model rasional (rational model) memberikan suatu jalan yang tidak berbelit-belit dan mempunyai pendekatan waktu yang efisien. Dalam mengevaluasi proses kurikulum, satu hal yang dapat diargumenkan adalah tyler dan taba telah mendapatkan sesuatu yang sifatnya rasional, yang menyokong pembangunan kurikulum setidaknya dari perspektif rasional.
Penulis


INOVASI TEKNOLOGI PADA LAHAN KERING



INOVASI TEKNOLOGI PADA LAHAN KERING

LATAR BELAKANG
Kebijakan sentralistiprogram pembangunan pertanian pada padi sawah selama periode 1969 -1997 (Pelita I-VI), menyebabkan usahatani lahan kering kurang mendapat perhatian. Sementara itu, proyek-proyek pembangunan pertanian lahan kering telah banyak dilaksanakan tetapi tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan, dimana penyebabnya antara lain adalah tidak berkembangnya kemandirian masyarakat dan pembinaan yang tidak berkesinambungan. Hal ini menyebabkan sistem usahatani lahan kering semakin tertinggal, terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hulu. Ketimpangan pengelolaan dan penanganan permasalahan lahan kering antara lain mencakup:
1.      Input usahatani konservasi terbatas sehingga memicu degradasi lahan dan menyebabkan produktivitas rendah,
2.      Pengelolaan lahan yang tidak dilandasi pengetahuan tentang kesesuaian dan kemampuannya, dan
3.      Pertambahan jumlah penduduk sehingga mendorong petani untuk mengusahakan lahan kering berlereng di DAS hulu yang rentan terhadap erosi.
Pengelolaan lahan kering perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya semakin meningkat sekaligus mendukung pemantapan ketahanan pangan. Penduduk Indonesia bertambah sekitar 1,34% pertahun (BPS, 2006), sementara di pihak lain terdapat perubahan pola konsumsi penduduk dari non beras ke beras, terjadi peningkatan konversi lahan sawah irigasi untuk kepentingan non pertanian, dan tingkat produktivitas padi sawah mengalami pelandaian (levelling off). Dalam kurun waktu 1981-1999 telah terjadi alih fungsi lahan sawah ke penggunaan lahan non sawah seluas 1,6 juta ha (Irawan et al., 2001). Bila diasumsikan produktivitas lahan sawah sebesar 6,0 t/ha gabah kering panen (GKP), maka telah terjadi kehilangan produksi sebanyak 9,6 juta ton GKP/tahun (Agus et al., 2004). Permasalahan pengurangan produksi pangan ini perlu diatasi dengan usaha peningkatan produktivitas lahan sawah yang ada, pencetakan lahan sawah baru, dan pengelolaan serta pengembangan lahan potensial lainnya termasuk lahan kering yang masih cukup luas.
Istilah lahan kering seringkali digunakan untuk padanan upland, dryland atau unirrigated land. Kedua istilah terakhir mengisyaratkan pengunaan lahan untuk pertanian tadah hujan. Upland menunjukkan lahan yang berada di suatu wilayah berkedudukan lebih tinggi yang diusahakan tanpa penggenangan air seperti lahan padi sawah (Notohadinegoro, 2000). Lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah digenangi atau tergenang air pada seba- gian besar waktu dalam setahun (Adimihardja et al., 2000). Penggunaan lahan kering untuk pertanian di Indonesia pada umumnya dikelompokkan untuk pekarangan, tegalan/kebun/ladang, padang rumput, perkebunan, tanaman kayu-kayuan, dan lahan tidak diusahakan. Lahan kering untuk perkebunan yang belum dikelola seluas ± 12,2 juta ha, tegalan/kebun/ladang seluas ± 9,7 juta ha (Dirjen Perkebunan, 2001). Lahan kering yang belum diusahakan ternyata masih luas, yang disertai indeks pertanaman yang rendah terutama di luar P. Jawa, menunjukkan bahwa sebagian lahan belum dikelola secara benar.
Pengelolaan sumberdaya lahan kering merupakan suatu cara pengelolaan bagian lingkungan hidup untuk mendapatkan kesejahteraan bagi manusia. Pengelolaan sumberdaya lahan harus dipandang sangat penting berdasarkan pertimbangan bahwa proses pembangunan yang sedang dan akan dilakukan di Indonesia masih tergantung pada cara memanfaatkan potensi sumberdaya lahannya. Sumberdaya lahan kering dengan segala anasir (component) di dalamnya termasuk tanah, batuan, lereng, air, dan biota harus dikelola dengan baik agar mendapatkan manfaat yang optimal dan berkesinambungan antar penggunaannya.
Memasuki era millenium ke-3 saat ini perlu dirumuskan kembali paradigma dan konsepsi tentang pengelolaan sumberdaya alam termasuk reformasi pengelolaan lahan kering. Reformasi pengelolaan lahan kering antara lain meliputi berbagai gatra (aspect): lahan kering sebagai sistem pendukung utama kehidupan manusia, penggunaan teknologi sumberdaya lahan, kebijakan, kelembagaan/pranata, dan tata ruang pendayagunaannya. Reformasi pengelolaan lahan kering ini mutlak perlu dilaksanakan guna mendukung dan sekaligus memantapkan swasembada pangan di Indonesia. Makalah ini akan membahas teknologi dan kebijakan yang perlu dilaksanakan pada pengelolaan lahan kering untuk memantapkan swasembada pangan nasional

PERMASALAHAN LAHAN KERING
Permasalahan utama yang perlu mendapat perhatian khusus pada lahan kering adalah konservasi lahan kering dan kendala produksi.


Konservasi lahan kering
Multifungsi pertanian lahan kering perlu dilihat dalam konteks dimensi yang lebih luas, yaitu
selain sebagai penyedia bahan pangan juga mempunyai jasa atau manfaat terhadap lingkungan, baik lingkungan biofisik dan kimia maupun sosial-ekonomi (Agus et al., 2003; Yoshida, 2001; Eom and Kang, 2001; Suh, 2001). Sebagai penghasil pertanian, lahan kering berkontribusi dalam ketahanan pangan, penyangga ekonomi, nilai sosial dan budaya (Irawan et al., 2004). Sebagai penyedia jasa ekosistem/lingkungan, lahan kering berfungsi dalam pengendalian erosi, mitigasi banjir, keanekaragaman hayati dan pendaur ulang bahan organik (Notohadinegoro, 2000; Agus et al., 2004). Tanah berkemampuan membersihkan limbah dari bahan atau zat-zat pencemar yang dikandungnya dengan jalan menyaring, menyerap, dan atau mengurai. Dengan demikian tanah berkesanggupan untuk bertindak sebagai faktor sanitasi lingkungan hidup (Notohadinegoro, 2000).
Kebijakan pembangunan lahan kering yang sebagian besar wilayahnya berlereng > 15%, perlu mempertimbangkan multi fungsi pertanian dan lingkungan hidup.Kebijakan pembangunan yang tidak memihak kepada pertanian akan mengganggu stabilitas ketahanan pangan, memperburuk kualitas lingkungan, dan berdampak buruk terhadap stabilitas ekonomi, sosial dan politik (Fagi dan Las, 2006). Untuk keterlanjutan perikehidupan dan menjamin kesejahteraannya, manusia tidak mungkin mengabaikan upaya mencegah degradasi berbagai fungsi tana.
Kendala produksi
Kendala produksi di lahan kering adalah kondisi fisik lahan (kedalaman tanah relatif dangkal, sebagian horizon A atau B hilang tererosi, lereng curam, kekeringan, teknologi (penerapan teknik konservasi yang lemah), dan sosial ekonomi (ketiadaan modal untuk menerapkan teknologi anjuran dan tiadanya subsidi dan kredit bagi petani pelaksana teknologi konservasi). Agregat dari kendala fisik, teknologi, dan sosial ekonomi tersebut adalah produktivitas lahan rendah. Biaya untuk meningkatkan produktivitas lahan meningkat, jumlah penduduk miskin bertambah, dan yang dikhawatirkan adalah ketidakstabilan ekonomi, sosial, dan politik (Fagi dan Las, 2006). Oleh karena itu pengelolaan lahan kering yang tepat dan mengarah pada peningkatan produksi yang berkesinambungan mutlak perlu dilakukan. Upaya-upaya pengendalian erosi dan perbaikan produktivitas lahan kering telah dirintis oleh instansi-instansi terkait dan perguruan tinggi, yang walaupun bersifat parsial namun hasilnya cukup prospektif.


PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN TEKNOLOGI
Curah hujan
Pertumbuhan tanaman di lahan kering secara langsung dipengaruhi oleh faktor iklim terutama curah hujan. Berbeda dengan padi sawah, yang lingkungan tumbuhnya selalu tergenang air. Di lahan kering seringkali mendapat berbagai tekanan (stress) karena kekeringan, keracunan dan kekahatan berbagai unsur-unsur hara, selain gangguan berbagai penyakit dan gulma. Curah hujan tahunan di lahan kering berkisar antara 1.200-3.000 mm. Bulan kering umumnya terjadi antara bulan Mei sampai dengan Oktober, dan zone agroklimatnya termasuk B-2, C-3, D-4, E-1, dan E-3. Jumlah dan sebaran hujan merupakan komponen iklim yang amat penting yang mencirikan kesesuaian suatu lingkungan untuk pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air untuk tanaman tergantung pula pada sifat fisik tanah, terutama daya memegang airnya. Oleh karena itu, pada lahan kering curah hujan dan kapasitas tanah memegang air merupakan salahsatu faktor yang menentukan keberhasilan produksi pangan. Untuk mengatasi masalah ini antara lain dengan penggunaan varietas unggul berumur genjah, saat tanam yang tepat dan membuat konservasi air permukaan berupa embung/waduk kecil.
Curah hujan dapat dimanfaatkan secara seksama di lahan-lahan kering, lebih baik lagi jika dimanfaatkan secara efisien sehingga dapat mendukung proses produksi tanaman pangan semusim selama 2 musim tanam, dengan asumsi bahwa kebutuhan air tanaman pangan sebesar 120 mm/bulan. Mengingat sebagian besar lahan kering di Indonesia bercurah hujan antara 1.500 sampai 2.000 mm/tahun, maka potensi ini cukup berpeluang untuk memenuhi kebutuhan tanaman pangan.
Pengendalian erosi tanah
Pengendalian erosi tanah pada lahan kering dapat dilakukan dengan usahatani konservasi. Penerapan teknik konservasi tanah berperan penting dalam meningkatkan produktivitas lahan, memperbaiki sifat lahan yang rusak, dan upayaupaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi. Pemakaian istilah konservasi tanah seringkali diikuti dengan istilah konservasi air. Meskipun keduanya berbeda tetapi saling terkait. Sasaran konservasi tanah adalah meliputi keseluruhan sumberdaya lahan yang merangkum kelestarian tanah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk dan mendukung keseimbangan ekosistem.
Pada dasarnya teknik konservasi tanah dibedakan menjadi tiga cara (Arsyad, 1989; Notohadiprawiro, 1978; Subagyono et al., 2003) yaitu :
a) Teknik konservasi tanah secara mekanik,
b) Teknik konservasi tanah secara vegetatif, dan
c) Teknik konservasi tanah secara kimiawi.
Teknik konservasi tanah secara mekanik adalah upaya menciptakan fisik lahan atau bidang lahan pertanian sehingga sesuai dengan kaidah  konservasi tanah dan air. Teknik ini meliputi pembuatan teras (bangku, individu, kredit), guludan dan pematang searah kontur dan sebagainya (Agus et al., 1999). Untuk meningkatkan pemanenan air (water harvesting) dibuatkan bangunan resapan air, embung dan rorak. Teras bangku telah lama dikenal dan dipraktekkan petani di Indonesia. Meskipun biaya pembuatan teras bangku lebih mahal dibandingkan teras gulud, namun dari kemampuannya (menekan air aliran permukaan, menahan genangan air, dan memfasilitasi perkolasi) lebih baik dibandingkan dengan teras gulud.
Teknik konservasi tanah secara vegetatif adalah penggunaan tanaman maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran limpas permukaan (run off), peningkatan kadar lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah penggunaan bahan kimia, baik organik maupun anorganik, yang bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dalam menekan laju erosi. Teknik ini jarang digunakan karena tergolong mahal dan hasilnya hampir sama dengan penggunaan bahanbahan alami. Bahan kimiawi yang termasuk dalamkategori ini adalah bahan pembenah tanah (soil conditioner).
Penggunaan teknologi sumberdaya lahan untuk mengendalikan erosi dan meningkatkan produktivitas lahan kering, yang relatif mudah dilakukan petani adalah penggunaan bahan organik. Peranan mulsa, limbah organik, kompos dan pupuk kandang (bahan organik) dapat mengendalikan erosi tanah, memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dan meningkatkan produksi tanaman. Penggunaan mulsa dari berbagai macam bahan antara lain sisa-sisa tanaman di lahan-lahan pertanian lahan kering ditujukan untuk melindungi tanah dari pengaruh gaya luar berupa pukulan butir-butir hujan yang dapat merusak kesuburan tanah maupun perakaran tanaman. Peranan sisa-sisa tanaman yang digunakan sebagai mulsa di lahan-lahan pertanian terutama pada lahan kering telah cukup banyak diteliti. Hasil penelitian Constantinensco (1976) dan Suwardjo (1981) menyatakan bahwa sisa-sisa tanaman dari sisa panen dapat mengurangi pengaruh pukulan butir-butir hujan, mengurangi penyumbatan poripori tanah dan memperkecil pengikisan lapisan permukaan tanah atas (topsoil). Mulsa, bila digunakan pada lahan kering berlereng cukup efektif mengurangi aliran permukaan (Lal, 1976), kadar bahan organik meningkat sehingga menambah kesuburan tanah (Jack et al., 1955).
Pengendalian gulma, hama, dan penyakit
Di lahan kering, pertumbuhan gulma merupakan masalah yang cukup berat, karena bersaing dengan tanaman pangan, dalam hal cahaya, hara, air, dan ruangan. Keberhasilan tanaman pangan tergantung dari keberhasilan pengendalian gulma. Pola tanam sepanjang tahun yang sesuai, dapat secara efektif mengendalikan gulma selain perberantasan cara-cara mekanis dan kimiawi.
Tekanan lingkungan berupa serangan hama dan penyakit tanaman adalah kendala peningkatan produktivitas tanaman pangan. Tikus merupakan hama padi penting yang masih belum tertanggulangi. Di samping itu penggerek batang, lundi, lalat bibit dan walang sangit adalah hama serangga yang umum menyerang tanaman pangan. Di antara penyakit, "blast" adalah penyakit padi yang berbahaya dan dapat menggagalkan panen. Hingga saat ini untuk memperoleh varietas tanaman pangan yang tahan terhadap hama dan penyakit tersebut diatas cukup sulit. Walaupun demikian, dalam keadaan tertentu langkah-langkah agronomis dapat memperkecil risiko kegagalan panen tanaman pangan.

PEMANTAPAN KETAHANAN SWASEMBADA PANGAN
Reformasi adalah koreksi institusional untuk menyesuaikan format, sosok dan penampilan, serta sistem dengan perubahan kondisi yang terjadi di dalam maupun di luar tubuh sistem itu (Adjid, 1998). Tujuan utama usaha pertanian pada saat ini adalah menyedia-kan pangan yang cukup bagi penduduk. Karena keterbatasan lahan, upaya meningkatkan produksi pertanian lebih baik dilakukan melalui peningkatan hasil panen per satuan luas lahan. Dengan demikian pertanian pada abad ke-21, yang lebih bersifat padat energi, dapat mengakibatkan peningkatan tekanan terhadap lingkungan. Karena kelangsungan hidup manusia bergantung pada peningkatan produksi pertanian dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan, perlu dikaji keseimbangan antara kebutuhan terhadap pengadaan barang dan jasa pertanian yang cukup dengan kebutuhan terhadap mutu lingkungan yang baik (Notohadiprawiro, 2000; James, 1995).
Lahan kering di Indonesia merupakan modal yang besar untuk dapat terlibat dalam pengembangan dan peningkatan produksi pertanian khususnya pangan. Modal dasar tersebut adalah keanekaragaman biologi dan sumberdaya lahan yang besar. Keunggulan komparatif sumberdaya alamnya perlu ditingkatkan pemanfaatannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengelolaan yang baik. Lahan kering juga merupakan salah satu sumberdaya yang mempunyai potensi besar untuk pemantapan swasembada pangan maupun untuk pembangun-an pertanian lainnya seperti hortikultura, perkebunan, dan peternakan.

Pemantapan swasembada pangan
Untuk pengembangan pertanian lahan kering, masalah teknis merupakan dasar penyusunan program terpadu dalam kaitannya dengan pengembangan sistem pertanian yang berkesinambungan (sustained agricultural system). Berdasarkan pertimbangan faktor-faktor potensi lahan, kendala fisik lingkungan, keadaan sosial ekonomi penduduk, untuk mendukung pemantapan swasembada pangan dapat ditempuh melalui program jangka pendek, dan jangka panjang.
Pemantapan ketahanan swasembada pangan dalam program jangka pendek adalah upaya-upaya yang terkoordinasi untuk membangun pertanian lahan kering yang produktif dengan memasyarakatkan teknologi dan inovasi baru melalui pendekatan pengelolaan tanaman dan sumberdaya lahan secara terpadu. Pendekatan yang dilakukan bertujuan untuk memantapkan koordinasi dan sinkronisasi dalam upaya peningkatan produksi pangan di tingkat nasional sampai pedesaan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Salahsatu peluang untuk peningkatan produksi tanaman pangan adalah memanfaatkan sumberdaya iklim terutama curah hujan seoptimal mungkin untuk perencanaan masa tanam dan menghindari risiko kekeringan. Pada lahan kering beriklim basah (curah hujan >2.000 mm/th) berpeluang masa tanam selama di atas 6 bulan (terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan Papua).
Memanfaatkan lahan-lahan kering yang memiliki iklim tipe B dan C, yang tersedia air sekitar 5 atau 6 bulan curah hujan secara berturutturut. Kondisi ini cukup untuk padi gogo yang ditanam sejak awal musim penghujan yaitu pada awal bulan November (Sumatera, Jawa, Kalimantan).
Pengaturan pola tanam yang dianjurkan yaitu pada awal musim hujan ditanami padi gogo yang lebih banyak kebutuhan airnya, kemudian diikuti oleh tanaman palawija yang lebih tahan kering. Pada pelaksanaannya setiap musim tanam dapat dilakukan dengan sistem tumpang sari (padi gogo + jagung) - kacang-kacangan.
Program jangka panjang merupakan kelanjutan dan perluasan penerapan program jangka pendek secara bertahap serta beberapa upaya lain untuk meningkatkan produksi dalam memantapkan swasembada pangan. Pemantapan ketahanan swasembada pangan jangka panjang adalah upaya-upaya peningkatan produksi pangan disertai penyediaan input sarana dan prasarana peningkatan produksi pangan melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan kering, teknologi, dan kelembagaan.

KEBIJAKAN KELEMBAGAAN
Secara historis, peraturan perundangan tentang kebijakan nasional pengelolaan sumberdaya tanah dan lingkungan hidup telah diletakkan dan dikembangkan sejak kemerdekaan sampai awal milenium ketiga ini (UUD 1945 pasal 33 ayat 3; UU No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup). Kebijakan-kebijakan normatif tentang pengelolaan sumberdaya tanah dan lingkungan hidup yang bersumber pada konstitusi, kehendak rakyat dan peraturan perundang-undangan termaktub dalam beberapa butir ketentuan, antara lain:
1.    bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
2.    bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat, dan
3. pengembang-an kebijakan pengelolaan sumber-daya tanah diarahkan untuk rneningkatkan pemanfaatan dan penggunaan tanah secara adil, transparan dan produktif dengan mengutamakan hak-hak rakyat setempat termasuk hak ulayat dan masyarakat adat, serta berdasarkan tata ruang wilayah yang serasi dan seimbang.
Hak menguasai dari negara tersebut memberi wewenang untuk :
a.    mengatur dan menyeleng-garakan peruntukkan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut.
b.    menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa,
c.     menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.
Jika kita telaah atau uraikan kebijakan normatif yang telah ditetapkan negara dan kenyataan empiris kondisi sumberdaya tanah/ lahan di Indonesia terasa terjadi kesenjangan yang begitu lebar. Tujuan dan sasaran kebijakan tersebut nampaknya masih jauh dari kenyataan. Konsepsi pengelolaan sumberdaya tanah/lahan yang harus dilaksanakan tersebut sepertinya tetap tinggal sebuah retorika dan hanya bersifat simbolis belaka. Dalam implementasinya sumber-daya tanah/lahan pada umumnya diperlakukan sebagai komoditi benda mati yang berdimensi tunggal, dan semata-mata hanya sebagai pemenuh komoditi politik ekonomi. Untuk membangun dan mengembangkan pertanian yang berswasembada secara berkelanjutan, diperlukan implementasi kebijakankebijakan yang dapat memacu produksi pangan, antara lain dengan melakukan investasi perluasan dan perbaikan sumberdaya lahan seperti pengembangan dan pencetakan sawah baru, pembangunan infrastruktur seperti penyu-luhan dan perkreditan, pembangunan sistem inovasi teknologi seperti penelitian dan pengembangan, serta penyebarluasan benih unggul, dan kebijakan pemanfaatan sumberdaya lahan dan air.

KESIMPULAN.
Tanah-tanah di lahan kering tersedia cukup luas dan berkendala ganda berkenan dengan segala sifatnya, yaitu fisik, kimia dan morfologi. Reformasi pengelolaan lahan kering dapat meningkatkan harkat tanah ini dari tingkat marginal menjadi berproduktivitas memadai secara berkelanjutan. Untuk mewujudkannya diperlukan implementasi kebijakan normatif seperti yang termaktub dalam Undang Undang Dasar dan teknologi serbacakup (comprehensive) yang didukung kebijakan mikro (program jangka pendek) dan kebijakan makro (program jangka panjang).
Reformasi pengelolaan lahan kering guna mendukung pemantapan swasembada pangan di Indonesia dapat diupayakan melalui program jangka pendek dan jangka panjang pada lahan kering berpotensi rendah sampai tinggi (seluas 12,90 juta ha) yang dibarengi dengan penerapan teknologi usahatani konservasi. Dengan teknik perbaikan agronomis diperkirakan dapat memproduksi gabah lebih dari 11,34 juta t/tahun dan kacang-kacangan lebih dari 6,96 juta t/tahun dapat memberikan dampak yang nyata terhadap pemantapan swasembada pangan. Reformasi pengelolaan lahan kering di Indonesia merupakan perbaikan konstitusional dan modal dasar yang besar guna pengembangan dan peningkatan produksi pertanian khususnya pangan. Keunggulan komparatif sumberdaya lahan dapat ditingkatkan pemanfaatannya dengan pengelolaan yang baik menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya serta implementasi kebijakan yang dapat memacu produksi pangan. Reformasi bagi perumusan kebijakan pengelolaan lahan kering sangat penting, sehingga perlu diletakkan pada konteks multidimensi, dan konsistensi dalam penjabaran kebijakan strategis menuju kebijakan operasional. Secara hirarkis harus ada keterkaitan yang konsisten antara kebijakan makro dan kebijakan mikro yang terwujud dalam substansi kebijakan pemerintah.






DAFTAR PUSTAKA

Adimihardja, A., L.I. Amin, F. Agus, dan Djaenudin. 2000. Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Hlm 19.
Agus, F., A. Adimihardja, A. Rachman, S.H. Tala’ohu, A. Dariah, B.R. Prawiradiputra,
B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. Badan Pusat Statistik. Jakarta,

Indonesia. Hlm 592.